Selasa, 26 Agustus 2014
Kamis, 21 Agustus 2014
mengatasi gangguan sebelum dan selama menstruasi
cara mengatasi gangguan sebelum menstruasi selama menstruasi setiap wanita berbeda beda tergantung cara yang dapat membuat perasaan menjadi lebih nyaman dan merasa lebih baik(August et al., 2000;Wahyudi ., 2001 dalam Rohmah., 2009). cara-cara yang dapat membantu mengurangi keluhan sebelum atau selama menstruasi :
- mengurangi konsumsi garam , karena garam dapat menyebabkan tubuh berusaha menyimpan air di dalam tubuh sehingga menyebabkan rasa penuh diperut bagian bawah.
- menghindari caffein pada kopi, minuman ringan atau teh.
- mengkonsumsi makanan berprotein tinggi seperti kacang-kacangan , ikan , daging dan susu . bila tubuh mencerna makanan seperti ini menyebabkan lebih banyak air keluar tubuh sehingga mengurangi rasa penuh di perut bagian bawah.
- biasakan meminum ramuan yang biasanya dapat mengatasi masalah menstruasi seperti jamu kunyit asam.
- jika menstruasi cukup banyak mengeluarkan darah, maka banyak mengkonsumsi makanan atau suplemen yang mengandung zat besi agar terhindar dari anemia.
- mengusap-usap perut bagian bawah untuk membantu otot perut yang mengencang untuk istirahat.
- memberi kompres hangat dan letakkan pada perut bagaian bawah atau dipunggung bagian bawah.
- minum minuman hangat yang mengandung kalsium.
- menarik nafas dalam secara perlahan untuk relaksasi.
- konsultasi ke dokter bila sangat nyeri dan pendarahan sangat banyak..
Wahyudi, S. (2001) Kesehatan reproduksi remaja. Jakarta: PKBI
Rohmah, F., (2009) Perilaku pencarian pengobatan gangguan menstruasi pada remaja putri di Kabupaten Tanjung Jabung Barat Propinsi Jambi.Yogyakarta. Thesis Universitas Gaadjah Mada (tidak dipublikasikan)
Kamis, 24 Juli 2014
ANALISIS MEDIA PEMBELAJARAN JENIS LEAFLET
Trimakasi sebelum nya untuk temanku Dinda (Dini indah Lestari) NIM : 13/352785/PKU/13661 untuk memberikan contoh tulisan nya , semoga bermanfaat untuk kita semua dan menjadi bahan untuk menambah ilmu pengetahuan kita,,,,
Media pembelajaran
adalah salah satu sarana yang dapat digunakan dalam membantu sasaran untuk
dapat memahami informasi dan edukasi yang diberikan salah satunya dalam
pendidikan kesehatan. Pemilihan media yang tepat menjadi salah satu kunci untuk
tercapainya tujuan pendidikan kesehatan. Adapun hal-hal yang perlu diperhatikan
dalam pemilihan media adalah menentukan sasaran dan karakteristik sasaran,
analisis kebutuhan sasaran, menentukan perubahan perilaku yang diharapkan, serta
memperhatikan konten materi yang perlu disajikan agar sesuai dengan perubahan
perilaku yang diharapkan (Susilana, 2009).
Salah satu pendidikan
kesehatan yang diberikan oleh Kementrian Kesehatan kepada remaja adalah adanya
informasi yang komprehensif mengenai HIV & AIDS. Berdasarakan data
Riskesdas 2010, diketahui bahwa hanya sebesar 11,4% remaja usia 15-24 tahun
yang memiliki informasi yang lengkap dan komprehensif mengenai HIV dan AIDS.
Oleh sebab itu Kementrian Kesehatan menyusun sebuah program yang diberi nama
“Aku Bangga Aku Tahu” untuk memberikan informasi yang komprehensif bagi
kalangan remaja. Ada beberapa media pembelajaran yang dipilih untuk diberikan
kepada kelompok remaja, antara lain penyuluhan dan pemberian leaflet. Namun
dalam tulisan ini hanya akan membahas mengenai leaflet dari program tersebut.
Pada dasarnya leaflet
adalah bentuk penyampaian informasi melalui lembarang yang dilipat-lipat
sedemikian rupa yang berisi kalimat, gambar, maupun kombinasi dari keduanya
yang salah satu fungsinya adalah memberikan edukasi di dalamnya (Saefudin & Setiawan, 2006). Berikut adalah analisis leaflet “Aku Bangga Aku Tahu” menurut
kriteria leaflet yang baik :
1.
Kelebihan
a.
Kesesuaian dengan tujuan
Berdasarkan hasil penelitian
yang dilakukan oleh Hardiningsih, 2011 mengemukakan bahwa remaja yang diberikan intervensi melalui leaflet
mendapatkan informasi yang lebih baik dalam rangka pencegahan HIV&AIDS. Hal
ini menunjukkan bahwa leaflet adalah salah satu metode yang tepat diberikan
untuk remaja dalam hal meningkatkan pengetahuan dan perubahan sikap. Karena
dalam hal melakukan penilaian terhadap media, kesesuaian dengan tujuan dan
sasaran merupakan poin penting (Susilana, 2009). Sehingga dapat disimpulkan bahwa leaflet yang diproduksi oleh
Kementrian Kesehatan telah memiliki kesesuaian dengan tujuan program. Hal ini
juga dapat dilihat dalam leaflet dimana media ini memberikan informasi yang lengkap dan komprehensif
mengenai HIV & AIDS yang terdiri dari alasan untuk mengetahui HIV,
penjelasan HIV & AIDS serta perbedaannya, cara penularan HIV, cara kerja
HIV dalam tubuh manusia, serta tentang narkotika.
b.
Kesesuaian dengan sasaran
Bentuk dan warna yang
diberikan juga telah disesuaikan dengan kelompok sasaran yaitu remaja. Adanya
beberapa warna di setiap bagian memberikan efek segar dan mengurangi kebosanan
dalam membaca serta dapat digunakan untuk menarik perhatian (Hagijanto, 2001). Selain itu bentuknya yang dapat dilipat sampai seukuran saku baju
sekolah juga memberikan nilai tambah bagi leaflet ini. Hal ini dikarenakan
remaja menyukai sesuatu yang simpel serta memberikan kemungkinan yang cukup
besar untuk menarik perhatian dengan ukuran media yang kecil dan warna yang
mencolok.
c.
Headline
Headline juga menjadi salah
satu bagian yang memegang peranan penting dalam penyusunan media cetak karena
pembaca akan diarahkan sesuai dengan tujuan dari materi yang akan disampaikan.
Headline yang baik haruslah berisi sedikit data, bermakna tajam, lugas, serta
memberikan pengertian utuh (Hagijanto, 2001). Leaflet “Aku Bangga Aku Tahu” memiliki beberapa headline yang
dipisahkan dengan kotak untuk masing-masing headline. Hal ini baik agar remaja
tidak mengalami kesulitan dan kerancuan dari beberapa headline yang muncul
dalam leaflet. Selain itu headline juga sudah ditulis dengan kalimat yang
singkat, lugas, serta sesuai dengan isi pesan yang disampaikan. Ukuran font
juga telah dibesarkan agar menjadi pembaca dapat dengan cepat menebak isi pesan
yang akan diberikan. Penulisan nomor di samping headline juga memberikan alur
yang jelas sehingga remaja akan membaca dengan alur yang diinginkan oleh
Kementrian Kesehatan.
2.
Kekurangan
a.
Isi Pesan
-
Berdasarkan kerucut Elgar Dale (Maulana, 2007) tulisan menempati posisi kedua tertinggi dari kerucut. Hal ini
mengartikan bahwa tulisan memberikan intensitas yang lemah sehingga penyampaian
materi akan kurang efektif apabila tidak digabungkan dengan media yang lain.
Pesan yang diberikan di dalam leaflet cukup padat sehingga ukuran font menjadi
lebih kecil. Ukuran font yang kecil akan mengakibatkan keengganan remaja untuk
membaca lebih lanjut. Selain itu remaja juga akan lebih susah mengingat
informasi yang diberikan.
-
Adanya isi pesan yang kurang fokus
terhadap poin kunci yang diharapkan dari leaflet juga memberikan nilai minus
dari media ini. Poin kunci dalam leaflet adalah “no narkoba” dan “no seks
beresiko”. Namun dalam leaflet tidak disampaikan bagaimana cara untuk
menghindari seks beresiko dan narkoba itu sendiri.
-
Dalam menyusun pesan hendaknya
juga memperhatikan penulisan istilah. Pesan yang menjelaskan headline sebaiknya
dirancang sedemikian rupa serta ada konsistensi agar memuat pesan yang tidak
membingungkan dan bermakna ganda (Hagijanto, 2001). Pada leaflet “Aku Bangga Aku Tahu” ditemukan dua istilah yang ditulis
dengan makna yang dianggap sama namun sejatinya memiliki makna yang berbeda,
yaitu “seks beresiko” dan “seks bebas”. Namun dalam pesan tidak disampaikan
penjelasan yang tepat untuk makna yang muncul tersebut. Seks beresiko memiliki
makna hubungan seksual bergonta ganti pasangan tanpa menggunakan pengaman
(kondom) baik yang dilakukan baik sesudah nikah maupun sebelum nikah. Namun
seks bebas dimaknai hubungan seksual sebelum menikah baik menggunakan pengaman
maupun tidak. Hal ini akan menimbulkan kebingungan bagi remaja mengenai
hubungan seksual beresiko itu sendiri. Sehingga akan memunculkan masalah baru
yaitu adanya stigma negatif bagi remaja yang telah melakukan hubungan seksual
sebelum nikah dan mengidap HIV positif.
-
Alur istilah yang tidak sesuai
dengan alur pesan juga menjadi kekurangan dalam leaflet ini. Dalam poin untuk 3
telah menyebutkan istilah “ODHA” namun penjelasan ODHA sendiri berada poin
nomor 6, begitu juga untuk istilah “CD4” yang telah tercantum pada poin 3 namun
penjelasan diberikan pada poin 5.
-
Tidak adanya kontak lain yang
dapat diakses apabila remaja ingin memperoleh informasi lebih lanjut tekait
pesan
3.
Saran
a.
Informasi yang edukatif sangat
disarankan dan didorong untuk selalu diberikan kepada remaja, namun akan lebih
baik apabila media cetak yang diberikan tidak terlalu banyak mengandung unsur
kata-kata serta menambah unsur gambar agar pesan mudah dicerna dan mudah
diingat
b.
Istilah diharapkan untuk konsisten
mulai dari awal pesan sampai pesan berakhir agar tidak menimbulkan makna ganda
dan kebingungan bagi pembaca
c.
Adanya kesesuaian antara pesan
kunci dan pesan yang disampaikan di dalam leaflet agar remaja ataupun pembaca
lainnya dapat menemukan kesesuaian dan pesan akan menjadi lebih efektif.
d.
Leaflet adalah media yang menyasar
ke banyak orang, maka leaflet juga menjadi media yang tepat untuk mempromosikan
suatu media lainnya. Sehingga akan lebih baik apabila dalam leaflet ini
mencantumkan kontak ataupun media lain yang dapat diakses oleh remaja untuk mendapatkan
informasi lebih lanjut mengenai HIV & AIDS.
DAFTAR
PUSTAKA
Hagijanto, A. D. (2001).
MENCIPTAKAN BRAND AWARENESS IKLAN MEDIA MASSA CETAK. Nirmana, 3 no.1,
17–31.
Hardiningsih. (2011). Perbedaan Pendidikan
Kesehatan dengan Ceramah dan Leaflet Terhadap Pengetahuan dan Sikap dalam
Rangka Pencegahan HIV AIDS pada Siswa Kelas XI Sekolah Menengah Atas Negeri 4
Surakarta, 1–10.
Maulana, H. D. J. (2007). Promosi
Kesehatan. Jakarta: EGC.
Saefudin, & Setiawan.
(2006). Teknik Pembuatan Leaflet Untuk Kegiatan Marketing. Temu Teknis
Nasional Tenaga Fungsional Pertanian, 546–552.
Susilana, R. (2009). MEDIA
PEMBELAJARAN: Hakikat,Pengembangan,Pemanfaatan,dan Penilaian. Bandung: CV
WACANA PRIMA.
KEBIJAKAN PENYEDIAAN FASILITAS UMUM BAGI PENYANDANG DIFABEL
OLEH : RAHMA TRISNANINGSIH
NIM : 13/357202/PKU/14087
Menjadi difable (penyandang cacat) ditengah
masyarakat yang menganut paham normalisme atau pemuja kenormalan, tentu
menghambat ruang gerak para difable (penyandang cacat) karena semua
sarana umum didesain khusus untuk orang yang bukan penyandang cacat, sehingga
tidak ada fasilitas bagi difable (penyandang cacat). Kurang dihargai
dalam bermasyarakat adalah sesuatu yang sering terjadi pada lingkungan difable
(penyandang cacat). Pusat rehabilitasi yang diciptakan pun menjadikan mereka
seolah difable (penyandang cacat) berbeda dengan orang lain.
Aksesibilitas bagi difable (penyandang cacat)
dititikberatkan pada ketersediaan dan kelayakan fasilitas yang ramah difable
(penyandang cacat), dimana perencana adalah subjek perancang yang
bertanggung jawab terhadap aksesibilitas difable (penyandang cacat)
sebagai warga Negara yang juga memiliki hak yang sama dengan warga Negara lain.
(RAHAYU SUGI, UTAMI DEWI, 2014)
Jumlah difabel di Indonesia pada tahun 2007 diprediksi
sekitar 7,8 juta jiwa (Suharto, Edi, 2010). Sebuah angka yang sebenarnya
relatif kecil dibandingkan jumlah penduduk Indonesia pada waktu itu berjumlah
sekitar 220 juta jiwa. Walaupun demikian selayaknya semangat pelayanan tidak
dipengaruhi jumlah besar atau kecilnya pengguna layanan. Para difabel juga
merupakan warga negara Republik Indonesia yang dalam Undang-Undang Dasar 1945
dijamin untuk memiliki kedudukan, hak, kewajiban, dan peran yang sama dengan
warga negara lainnya. Dalam rangka mewujudkan pembangunan nasional yang
bertujuan mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur berdasarkan Pancasila dan
Undang-Undang Dasar 1945. Untuk itu Pemerintah hendaknya memberikan perhatian
yang cukup kepada para difabel tersebut. Termasuk dalam hal aksesibilitas
pelayanan publik. (UGM, 2012)
Tabel
1. Komunitas kebijakan dari kubu pendukung, netral dan penentang
|
Pro
(pendukung)
|
Netral
|
Kontra
(penentang
|
||||||||||||
|
|
|
CATATAN : Istilah difabel berasal dari bahasa Inggris dengan
asal kata different ability, yang bermakna manusia yang memiliki kemampuan yang
berbeda. Istilah tersebut digunakan sebagai pengganti istilah penyandang cacat
yang mempunyai nilai rasa negative dan terkesan diskriminatif. Istilah difabel
didasarkan pada realita bahwa setiap manusia diciptakan berbeda. Sehingga yang ada
sebenarnya hanyalah sebuah perbedaan bukan kecacatan ataupun ke’abnormal’an.
TABEL 2. Pendukung, sikap netral dan penentang penyediaan
fasilitas bagi kaum difabel
|
No
|
STAKEHOLDER
|
STATUS
|
KEPENTINGAN
|
|
1
|
PENYANDANG
DIFABEL
|
PRO
|
Mendapat
kenyaman yang sama dengan masyarakat dengan kondisi normal
|
|
2
|
DINAS
SOSIAL DAN TENAGA KERJA
|
PRO
|
Program
pemberdayaan keluarga difabel, pemberian alat bantu bagi kaum difabel
Pembinaan
angkatan kerja khusus dimana didalam nya terdapat penyandang difabel
|
|
3
|
DINAS
PENDIDIKAN
|
PRO
|
Sekolah
model inklusi yaitu memberikan akses yang sama dalam pendidikan sehingga
adanya interaksi sosial antara masyarakat dan penyandang difabel
|
|
4
|
DINAS
PERHUBUNGAN
|
PRO
|
Membuat
sarana transportasi mudah diakses bagi penyandang difabel
|
|
5
|
DINAS
KESEHATAN
|
PRO
|
Memberikan
jaminan kesehatan bagi penyandang difabel
|
|
6
|
DINAS
PU
|
PRO
|
Membuat
sara dan prasarana khusus bagi penyandang difabel
|
|
7
|
LSM
PENDUKUNG DIFABEL
|
PRO
|
Menyadari
pentingnya sarana umum bagi difabel, memberikan kegiatan bagi penyandang
difabel
|
|
8
|
DPR/
DPRD
|
NETRAL
|
Membuat
peraturan dan perundang undangan tentang difabel
|
|
9
|
PEMDA
|
NETRAL
|
Belum
bagitu memahami tentang masyarakat difabel
|
|
10
|
MASYARAKAT/
SDM
|
KONTRA
|
Kurang
nya relawan yang membantu kegiatan penyandang difabel
|
|
11
|
BAGIAN
KEUANGAN/ DEPARTEMEN KEUANGAN
|
KONTRA
|
Selama
ini anggaran yang dikhususkan dalam memenuhi kebutuhan difabel kurang
mencukupi sehingga implementasi pelayanan kepada mereka kurang optimal
|
|
12
|
BIROKRAT
|
KONTRA
|
berpandangan
bahwa urusan difabel bukanlah masalah yang penting dan mendesak.
|
Tabel 3. Kekuatan pendukung, penentang dan netral
|
No
|
STAKEHOLDER
|
pro
|
netral
|
kontra
|
|
1
|
PENYANDANG
DIFABEL
|
5
|
|
|
|
2
|
DINAS
SOSIAL DAN TENAGA KERJA
|
4
|
|
|
|
3
|
DINAS
PENDIDIKAN
|
4
|
|
|
|
4
|
DINAS
PERHUBUNGAN
|
4
|
|
|
|
5
|
DINAS
KESEHATAN
|
4
|
|
|
|
6
|
DINAS
PU
|
4
|
|
|
|
7
|
LSM
PENDUKUNG DIFABEL
|
4
|
|
|
|
8
|
DPR/
DPRD
|
|
3
|
|
|
9
|
PEMDA
|
|
3
|
|
|
10
|
MASYARAKAT/
SDM
|
|
|
4
|
|
11
|
BAGIAN
KEUANGAN/ DEPARTEMEN KEUANGAN
|
|
|
4
|
|
12
|
BIROKRAT
|
|
|
4
|
|
|
Jumlah
|
29
|
6
|
12
|
Keterangan skor 1= sangat kecil, 2=kecil, 3=sedang,
4=besar , 5= sangat besar
Meskipun skor pendukung lebih besar
dari pada skor penentang dan netral tetapi kerjasama lintas sektoral antar
pendukung belum berjalan dengan baik, Aksesibel masih
merupakan isu utama dalam gerakan difabel di Indonesia. Aksesibilitas fasilitas umum memang merupakan
kebutuhan utama dari para difabel untuk dapat mengaktualisasikan diri dan
sekaligus berpartisipasi penuh dalam aktifitas bermasyarakat. Ketiadaan
fasilitas umum yang aksesibel bagi para difabel ini telah menyebabkan
eksklusifitas bagi para difabel di lingkungan masyarakatnya. (ANONIM, 1997)
ANONIM.
(1997). JURNAL PENYANDANG DIFABEL, 1–17.DIAKSES TANGGAL 1 APRIL 2014
RAHAYU SUGI, UTAMI
DEWI, M. A. (2014). PELAYANAN PUBLLIK BIDANG TRANSPORTASI BAGI KAUM DIFABEL.DIAKSES
TANGGAL 1 APRIL 2014
UGM, A. (2012).
ringkasan pelayanan publik bagi difabel, (25), 1–19.DIAKSES TANGGAL 1 APRIL
2014
Langganan:
Postingan (Atom)
